Kamis, 27 Oktober 2011

Kader harapan Bangsa


oleh : Muhammad Mabrudy
Sebelum saya mengungkapkan pendapat tentang penamparan saya ingin menyampaikan bahwa saya dulu besar di lingkungan yang tegas katanya, saya hidup enam tahun di pesantren yang terbiasa melakukan tamparan kepada santrinya bila seorang santri melakukan kesalahan. Satu, dua jam hukuman itu efektif begitu juga satu dua hari namun dalam jangka waktu yang panjang tidak ada efek jera yang timbul dari santri tersebut bahkan yang timbul adalah rasa benci ghibah (membicarakan orang lain) bahkan ada juga rasa balas dendam (dalam bentuk yang bermacam-macam). Tamparan atau kontak fisik apapun bukan merupakan bentuk yang efektif dalam sebuah pendidikan ataupun pengkaderan.
Terus pendapat saya dalam pengkaderan pertama-tama coba tanyakan terlebih dahulu kepada orang yang sepakat tentang tamparan atau kontak fisik semacam apa pun itu tentang alasan melakukan tamparan : bila alasannya adalah sebagai hukuman atau efek jera katakanlah bahwa hukuman seperti itu tidak menimbulkan efek jera kecuali hanya beberapa saat, bahkan yang muncul adalah rasa benci dari orang yang ditampar atau bahkan rasa dendam. Lihatlah orang yang ditampar akan tunduk ketika ditampar tapi akan mengeluh setelah ditampar. 
Bila mereka menjawab sebagai sebuah rasa sayang, katakanlah bahwa tamparan tidak sedikit pun menunjukan rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Kalau pun iya ada yang seperti itu,  tidak bisakah ada cara yang lebih baik untuk mengucapkan selamat datang atau menunjukan rasa sayangnya. Terus biasanya ada yang sering menjawab ini adalah Budaya dari himpunan kita, sebuah lingkungan yang tidak melestarikan budayanya pasti akan mati, ya ada benarnya juga tapi pantaskah budaya seperti ini dipertahankan? Pengkaderan zaman dulu memerlukan kader yang berani melawan tekanan pemerintah yang kejam, main tindas tanpa pandang bulu, namun cobalah lihat keadaan bangsa sekarang kita lebih membutuhkan kader bangsa yang cerdas, tidak bisa diiming-imingi oleh harta, juga berani, kita butuh kader yang mampu mengatakan bahwa suatu hal itu salah kalau emang salah, bukan kader yang menyebutkan sesuatu benar gara-gara takut sama seniornya, atau bukan kader yang membenarkan sebuah kesalahan karena sogokan-sogokan yang menggiurkan. Keberanian ini pun tidak akan bermanfaat kalo kader-kader yang dimiliki bangsa ini memiliki pemahaman yang minim terhadap suatu ilmu.
Lalu biasanya juga ada yang menjawab ini adalah sebuah pendidikan, pendidikan adalah proses yang harus disadari, jadi ketika maru ditampar mereka harus sadar bahwa mereka sedang dididik, kalau mereka ga sadar, ya bukan pendidikan namanya, Terus ada juga yang berdalih supaya lebih dekat, ketika dalam pengkaderan mereka ditampar, mereka jadi ingat, dan jadi dekat dengan kita, benarkah seperti itu? Salah seorang senior saya pernah berkata seperti itu lalu dia berkata “ketika pengkaderan, saya benci banget sama orang itu, lalu setelah bertemu dikampus eh ternyata saya jadi dekat dan akrab sama si akang yang menampar saya”  dia juga berdalih bahwa orang yang tidak dikader dengan ditampar menghasilkan kader yang “cunihin” ga sopan dan sebagainya, tapi saya merasakan kesopanan yang dihasilkan dari pengkaderan itu adalah kesopanan semu, sopan hanya karena takut, bukan sopan karena hormat, cara seperti itu hanya menghasilkan kader-kader yang bermuka dua. Banyak cara yang lain selaian kontak fisik yang dapat dilakukan untuk saling mengakrabkan maru, mala dan warga. 
Terakhir mereka biasanya berdalih semua senior juga sepakat dengan cara seperti ini (dibaca : penamparan dsb), jangan terlalu percaya pengalaman saya memang senior-senior yang datang kebanyakan menyampaikan hal itu, tapi ketika teman saya bertanya kepada salah seorang senior yang sudah “tua” tentang ma’na dari sebuah pengkaderan beliau bisa melihat lebih objektif dan tidak sepenuhnya sepakat dengan cara-cara yang dilakukan dulu.
Dari sekian banyak orang yang mengingnkan kontak fisik dalam pengkaderan saya berasumsi (bukan su’udzon tapi dari argument yang disampaikan terlihat seperti itu) bahwa mereka ingin melakukan tamparan hanya karena keinginan pribadi, balas dendam dan kesenangan. “Dulu saya ketika dikader, saya ditampar, masa maru sekarang ga ditampar” lalu ada juga yang bicara “mana maru yang sombong teh, biar saya kasih pelajaran”. Setelah mereka menampar orang yang menampar akan mempunyai sebuah cerita kesenangan yang dapat diceritakan ke temannya yang lain, saya pikir hal itu tidak bermanfaat kecuali hanya menghabiskan waktu. Memang tidak semua orang beralasan seperti ini, tapi tetap saja selalu ada oknum-oknum yang seperti itu. 
Senior saya pernah berkata “Pengkaderan/pendoktrinan akan berhasil dengan dua cara pertama menekan kader sehingga mereka berada dalam keadaan yang benar-benar tertekan sehingga dalam seperti itu kita bisa memberikan pendoktrinan atau cara kedua kita membuat kader benar-benar dekat dengan kita sehingga bila mereka sudah dekat apa yang kita sampaiakan akan mereka turuti” Cara yang pertama saya pikir memiliki resiko yang besar, dan bila seniornya tidak profesional bahkan akan muncul justru kebalikannya kader-kader yang rusak dan merusak bangsa. Cara pertama sangat cocok dilakukan di lembaga yang memang khusus memiliki kajian yang mendalam dan bidang yang khusus dalam pengkaderan seperti militer. Cara yang kedua menurut saya yang bisa diterapkan di himpunan, panitia harus tegas, serius ketika harus serius berbaur ketika waktunya bercanda.
Dalam mengkader selain kebutuhan himpunan yang dipertimbangkan, satu hal yang sering dilupakan panitia adalah Kebutuhan MARU, coba amati maru apakah mereka datang ke sini untuk menjadi kader di himpunan? Tidak mereka datang ke sini memiliki berbagai macam tujuan dari akademis dan lain-lain, layaknya himpunan harus bisa memfasilitasi pengkaderan yang bisa menyeimbangkan aspek pemikiran (akademis, keilmuan dll), ruhani dan jasmani
Terakhir tentang penamparan dalam pengkaderan saya kadang berfikir,
-      Orang tua saya aja yang melahirkan saya, mengurus saya dari kecil, tidak pernah memukul saya apalai menampar di muka, lalu anda siapa saya? Apa yang telah anda berikan ke saya sehingga berani menampar saya 
-     Penamparan untuk pendidikan harus dilakukan oleh orang profesional, lihat saja STPDN yang biasa melakukan hal seperti itu sampai bisa memakan korban, senior saya menceritakan tentang temannya yang datang ke kampus untuk belajar, tetapi dia ikut pengkaderan dan ditampar seniornya, sampai telinganya berdarah dan tuli, bayangkan bagaimana perasaan orang tua yang pada awalnya dengan bangga menyekolahkan anaknya supaya bisa jadi orang sukses, terenggut masa depannya gara-gara perilaku seniornya yang tidak profesional. Mungkin di pengkaderan sebelumnya belum pernah terjadi, tapi kalo tahun ini terjadi, bagaimana? Ketua himpunan sebagai orang yang bertanggung jawab adalah orang yang pertama kali diminta pertanggungjawabannya, staf-staf yang lain tidak akan terlalu merasakan, apalagi senior-senior, mereka juga tidak akan terlalu tahu-menahu, kalau ada tuntutan dari polisi penguruslah yang akan mendapatkan efek yang paling besar, selain UPI sebagai sebuah lembaga tentunya
-         Ini adalah tahunnya teman-teman, dan yang tanggung jawab adalah teman-teman, yang paling tahu kondisi pengurus dan maru adalah teman-teman, Jadi rasionalkan yang ingin teman-teman lakukan, jangan pernah goyah kalo itu memang baik, tapi tetap harus mau menerima masukan dari luar.

Terakhir, mungkin unataian kata-kata ini tidak lebih dari sebuah kata-kata belaka, benar salahnya adalah hak bagi pembaca untuk menentukannya, tetapi sebuah masukan bagi penulis adalah sesuatu yang lebih bermakna.
Terima kasih dan mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan.

Pesanteren Peradaban

Ta'lim sore ini, jum'at 27 Oktober 2011 sungguh luar biasa, meneladanai Muhammad Al-Fatih sebagai salah seorang pemuda yang jaya di masanya, setelah mengikuti kegiatan tersebut tiba-tiba muncullah ide terhadap apa yang ingin dilakuakan di masa depan, terutama setelah ditanya, apa rencana kalian 20 tahun ke depan?

Semenjak dulu saya memang bercita-cita untuk mendirikan sebuah pesantren, namun setelah mendengarkan kembali kisah keleteladan muhammad al-fatih yaitu kisahnya yang mampu membebaskan konstantinopel setelah beberapa abad diperjuangkan, namun penaklukannya bukan dilakukan dengan semudah membalikan tangan tapi penaklukannya dimulai dari penjagaan ruhiyyah dari orang yang bernama Muhammad Al-Fatih, beliau tercatat sebgaia seorang yang tidak pernah meninggalkan shalat tahajjuda dan shalat sunnah rawatib.

Dari kisah tersebut saya menjadi benar-benar termotivasi untuk menciptakan sebuah pesantren yang bernuansa demikian, bangsa ini dengan berbagai macam pengaruh negatif selalu berusah menjauhkan umat isalam dari ajarannya, oleh karena itu dibutuhkan pejuang-pejuang yang dapat melakukan bangsa ini sebagaimana khlifah pada masa itu mencari anak-anak cerdas untuk dijadikan prajurit islam yang terlebih dahulu dibersihkan ruhiyyahnya. Banyaknya musush-musuh islam tidak akan pernah selesai hanya dengan sebuah pengetahuan apalagi hanya sebuah niat dan angan-angan.

Pesantren yang ingin diciptakan adalah pesantren bernuansa sains yang melatih siswanya pertama tentunya untuk menjaga amalan-amalan sunnah sebagaimana apa yang dilakukan oleh muhammad al-fatih. Kedua diperlukan juga pengetahuan sains yang mampu memperdalam juga perkembangan sains karena pada hakikatnya islam tidak hanya sekedar mangatur tentang ibadah dan akidah semata, tetapi bahkan lebih dari itu, sehingga lingkungan yang muncul adalah lingkungan sains yang pernah ditampilkan di akhir film "3 idiot".

Pola pembinaan yang dikemabangkan juga merupakan pola pebinaan berkelompok sebagaiman yang ditampilkan oleh rosulullah di awal perkemabangan da'wah di rumah arqom bin abi arqom, santri yang lebih tua akan memegang kelompok santri yang lebih muda sedangakan santri yang lebih tua akan diketuai oleh para ustadz, atau mungkin mirip juga seperti pembentukan tim genin yang diketuai oleh jounin pada film "naruto". Selain itu diharapkan juga dari pesantren ini muncul jiwa-jiwa wirausaha yang dapat menciptakan lapangan kerja sendiri bukan jiwa pekerja yang hanya minta digajih orang lain.

Tulisan ini mungkin tidak lebih dari runtaian kata-kata yang tidak dibaca hanya akan memenuhi blog, tapi dengan tulisan ini semoga ada yang terisuatau saat saya akan kembali membacanya dan bersyukur kepada Allah karena saya telah mewujudkan apa yang saya tuliskan, ataupun bila ada yang terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, itu adalah sebuah jalan menuju kebaikan umat islam bersama.

Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Pembuka Istanbul

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Usmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara. Bandar ini didirikan tahun 330M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah pada perang Khandak. Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayah. Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk. Awal kurun ke-8 hijrah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildrim Beyazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng. Selepas Daulah Usmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Usmaniyah. Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya. Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Alquran dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Alquran, hadis, fikih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya. Syeikh Semsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam. Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Alquran mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT. Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" terus membahana di angkasa Konstantinopel. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan zikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jamadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentera Usmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Usmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka. ( yus/berbagai sumber )
sumber : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/08/10/16/8050-sultan-muhammad-al-fatih-sang-pembuka-istanbul

Rabu, 26 Oktober 2011

Ujian dan Kejujuran

dituls oleh : Muhammad Mabrudy

Kejujuran itulah kata-kata yang paling mudah diucapkan dan dipinta tapi sangat sulit sekali untuk dilaksanakan, apalagi kalo tidak pernah mencobanya sama sekali. Guru saya pernah berkata ujian sebenarnya bukan untuk menentukan jawaban benar atau salah bukan pula sekedar lulus dari mata pelajaran atau mata kuliah, tapi ujian adalah melatih untuk berbuat jujur serta memupuk jiwa kejujuran. Terima kasih kepada dosen tercinta saya yang telah mengingatkan hari ini tentang hakikat dari ujian, walaupun saat itu saya hanya bermaksud untuk bertanya hal yang sangat sepele sekali. 

Bangsa kita adalah bangsa yang korup. Sebenarnya sejak kapan anank-anak di negeri ini dilatih untuk berbuat korup dan curang? Tidak dapat dipungkiri lagi, hal ini dimulai saat ujian, UTS, UAS, ulangan harian UAN dan ujian-ujian lainnya yang sejenis. Ada beberapa orang yang berpendapat "tidak apa-apa kalo bekerja sama dalam ujian terutama dalam UAN karena kita berada dalam kondisi terdesak, sebenarnya kita bisa tapi karena kondisi menuntut kita maka dilakukanlah kegiatan mencontek dan kegiatan-kegiatan tidak jujur lainnya", hal ini pula yang akan menjadi alasan mereka kelak ketika akan korupsi uang-uang rakyat, "tidak apa-apa mungkin kali ini saja, soalnya lagi butuh banget, toh tidak seberapa juga" Setiap kali akan korupsi alasan desakan kebutuhan hidup menjadi alasan utama untuk melakukan kegiatan kotor itu.

Ujian pada pembelajaran sebenarnya tidak hanya ingin mengetahui siswa bisa atau tidak memecahkan masalah yang kita berikan, ujian juga sebenarnya berasumsi bahwa semua siswa/mahasiswa itu sebenarnya bisa menyelesaikan masalah yang diberikan tapi bagaimana kalo mereka harus menyelesaikannya dengan kondisi yang dibuat "seolah-olah" tidak nyaman, diawasi oleh guru/dosen yang "galak sehingga membuat siswa tegang, dibatasi waktu sehingga terasa terburu-buru. Dengan kondisi yang dibuat ini apakah siswa dapat menyelesaikan permasalahan yang ada? kenapa hal seperti ini perlu? Karena dalam menyelasaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya "tekanan" baik berupa tuntutanm deadline dan lai-lai

Selain itu juga ujian melatih jiwa kejujuran siswa seperti yang sudah dijelaskan di atas, apakah setelah mereka merasa tidak mampu dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain untuk menutupi kelemahan diri sendiri. Hakikatnya ketika ada siswa yang melakukan ketidakjujuran mereka telah benar-benar merugikan orang lain. Orang lain harus belajara siang dan malam untuk menjwab soal sedangkan dia hanya memerlukan sedikit kelicikan untuk menjawabnya.

Marilah kita sama-sama meresapi kembali makna sesungguhnya dari ujian, ujian bukan hanya persoalan nilai belaka, ujian bukan hanya persoalan lulus atau tidak lulus, tapi ujian merupakan wahana bagaimana memepertahnkan prinsip kehidupan, ujian meupakan cerminan sikap dan kepribadian diri kita. Penuli bukanlah orang yang sempurna tapi marilah kita saling mengingatkan.

Terakhir ditutup dengan kutipan dari salah seorang dosen : 
"Suatu saat kau akan menyesal dengan nilai A yang telah kau dapat, dan suatu saat kau akan bangga dengan nila D yang kau peroleh"
Sekian

Minggu, 23 Oktober 2011

Cinta itu seperti kentut, Benarkah?

Ditulis oleh : Muhammad Mabrudy
"Cinta itu seperti kentut, kalo ditahan sakit tapi setelah dilepaskan rasanya lega sekali"

Itulah yang pernah saya baca, benarkah seperti itu? mari kita analisis bersama-sama, terlepas apakah kita pernah atau belum merasakannya. Pertama cinta yang mana yang kita maksud, bila cinta yang kita maksud adalah cinta kepada Tuhan yang maha Esa sepertinya tidak, kecuali kalau kita berada dalam kemunafikan yang malu-malu mengungkapkan dan menunjukan rasa cinta kita kepada-Nya. Mungkin maksud orang yang menulis tulisan diatas adalah cinta kepada sesama manusia sesama makhluknya, eh tapi yang mana? cinta sesama manusia kan banyak? kalo saya berasumsi dan melihat film-film yang lagi ngetren sepertinya bukan cinta kepada orang tua ataupu saudar, kayaknya cinta kepada lawan jenis yang paling mungkin, kenapa?

Berdasarkan pengalaman yang pernah saya lihat, baik berupa pengalaman teman-teman dekat ataupun film-film yang lagi ngetren (film juga kan biasanya dari kenyataan). Orang yang sedang merasakan ini (dibaca c-i-n-t-a) biasanya akan berlaku salah tingkah, jadi agak sedikit GJ ataupun hal-hal sejenis bila berada dekat orang yang disukanya. Selai itu juga dia akan berusaha perfect berusaha menjadi dirinya yang terbaik walaupun mengada-ngada berharap orang yang disukainya mennyukainya juga. Naaah hal seperti inilah mungkin yang disebut menyiksa sehingga orang menganalogikan c-i-n-t-a itu bgaikan kentut yang apabila tidak diungkapkan akan semakin sakit dan menyiksa diri,

terus emang kalo diungkapkan jadi lega ya,.? Katanya sih iya, kenapa? karena kalo udah diungkapkan mah katanya kita tidak perlu berpura-pura lagi dihadapnnya kalo dia ga suka kan ga jadi berharap terlalu banyak sehingga bisa mencari tempat singgah yang lain (kelamnyaaaaaa.......) atau bahakan jika dia suka dia bisa tampil apa adanya tanpa ada yang ditutupi (padahal mah bohong, tetap aja selalu mengada-ngada dihadapanny, hmmmm....). Katanya seperti itu kurang lebih.

Gitu mungkin analisis saya, lalu pendapat anda bagaiman?
Kalo pun analogi di atas itu benar saya memandang tetap saja tidak boleh kenapa..? kalo mengungkapkan cinta kepada lawan jenis saat itu dianalogikan kepada kentut berarti jawabnnya : JANGAN KENTUT SEMBARANGAN..!, saat itu orang yang kau cintai belum menjadi hak-mu, KENTUTLAH PADA TEMPATNYA..! yang mungkin ditempat yang sepi atau bermunajatlah kepada Sang Pencipta tuk menghilangkan gelisahmu dan bila saatnya tiba yaitu ketika sudah mendekati waktunya KENTUTLAh, eh salah ungkapkanlah c-i-n-t-a mu, kapan? setelah kau dan dirinya terikat oleh sebuah ikatan suci yang disebut dengan pernikahan.

Seorang muslim sejat tidak akan melukai perasaan lawan jenisnya hanya dengan ucapan c-i-n-t-a, yang membuat lawan jenisnya lebih mementingkan dirinya daripada Tuhan yang memang harus dipentingkan, lebih mementingkan dirinya daripada amanah yang seharusnya ia jalankan, lebih mementingkan dirinya daripada diri sendiri yang harus dipenuhi haknya juga, Jangan samapai seperti itu laaah. Orang muslim yang menahan rasa c-i-n-t-a nya kepada sesuatu yang belum menjadi haknya hakikatnya dia sedang berjihad, dan walaupun dia mati sebelum sempat mengungkapkannya berarti dia telah mati Syahid, telah mati sebagai Syuhada...

Semoga bermanfaat, maafkan bila ada hati yang teluka karena ucapan, sikap dan perbuatan diri ini

Tentang Penamparan dalam Pengkaderan


oleh : Muhammad Mabrudy
Sebelum saya mengungkapkan pendapat tentang penamparan saya ingin menyampaikan bahwa saya dulu besar di lingkungan yang tegas katanya, saya hidup enam tahun di pesantren yang terbiasa melakukan tamparan kepada santrinya bila seorang santri melakukan kesalahan. Satu, dua jam hukuman itu efektif begitu juga satu dua hari namun dalam jangka waktu yang panjang tidak ada efek jera yang timbul dari santri tersebut bahkan yang timbul adalah rasa benci ghibah (membicarakan orang lain) bahkan ada juga rasa balas dendam (dalam bentuk yang bermacam-macam). Tamparan atau kontak fisik apapun bukan merupakan bentuk yang efektif dalam sebuah pendidikan ataupun pengkaderan.
Terus pendapat saya dalam pengkaderan pertama-tama coba tanyakan terlebih dahulu kepada orang yang sepakat tentang tamparan atau kontak fisik semacam apa pun itu tentang alasan melakukan tamparan : bila alasannya adalah sebagai hukuman atau efek jera katakanlah bahwa hukuman seperti itu tidak menimbulkan efek jera kecuali hanya beberapa saat, bahkan yang muncul adalah rasa benci dari orang yang ditampar atau bahkan rasa dendam. Lihatlah orang yang ditampar akan tunduk ketika ditampar tapi akan mengeluh setelah ditampar. 
Bila mereka menjawab sebagai sebuah rasa sayang, katakanlah bahwa tamparan tidak sedikit pun menunjukan rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Kalau pun iya ada yang seperti itu,  tidak bisakah ada cara yang lebih baik untuk mengucapkan selamat datang atau menunjukan rasa sayangnya. Terus biasanya ada yang sering menjawab ini adalah Budaya dari himpunan kita, sebuah lingkungan yang tidak melestarikan budayanya pasti akan mati, ya ada benarnya juga tapi pantaskah budaya seperti ini dipertahankan? Pengkaderan zaman dulu memerlukan kader yang berani melawan tekanan pemerintah yang kejam, main tindas tanpa pandang bulu, namun cobalah lihat keadaan bangsa sekarang kita lebih membutuhkan kader bangsa yang cerdas, tidak bisa diiming-imingi oleh harta, juga berani, kita butuh kader yang mampu mengatakan bahwa suatu hal itu salah kalau emang salah, bukan kader yang menyebutkan sesuatu benar gara-gara takut sama seniornya, atau bukan kader yang membenarkan sebuah kesalahan karena sogokan-sogokan yang menggiurkan. Keberanian ini pun tidak akan bermanfaat kalo kader-kader yang dimiliki bangsa ini memiliki pemahaman yang minim terhadap suatu ilmu.
Lalu biasanya juga ada yang menjawab ini adalah sebuah pendidikan, pendidikan adalah proses yang harus disadari, jadi ketika maru ditampar mereka harus sadar bahwa mereka sedang dididik, kalau mereka ga sadar, ya bukan pendidikan namanya, Terus ada juga yang berdalih supaya lebih dekat, ketika dalam pengkaderan mereka ditampar, mereka jadi ingat, dan jadi dekat dengan kita, benarkah seperti itu? Salah seorang senior saya pernah berkata seperti itu lalu dia berkata “ketika pengkaderan, saya benci banget sama orang itu, lalu setelah bertemu dikampus eh ternyata saya jadi dekat dan akrab sama si akang yang menampar saya”  dia juga berdalih bahwa orang yang tidak dikader dengan ditampar menghasilkan kader yang “cunihin” ga sopan dan sebagainya, tapi saya merasakan kesopanan yang dihasilkan dari pengkaderan itu adalah kesopanan semu, sopan hanya karena takut, bukan sopan karena hormat, cara seperti itu hanya menghasilkan kader-kader yang bermuka dua. Banyak cara yang lain selaian kontak fisik yang dapat dilakukan untuk saling mengakrabkan maru, mala dan warga. 
Terakhir mereka biasanya berdalih semua senior juga sepakat dengan cara seperti ini (dibaca : penamparan dsb), jangan terlalu percaya pengalaman saya memang senior-senior yang datang kebanyakan menyampaikan hal itu, tapi ketika teman saya bertanya kepada salah seorang senior yang sudah “tua” tentang ma’na dari sebuah pengkaderan beliau bisa melihat lebih objektif dan tidak sepenuhnya sepakat dengan cara-cara yang dilakukan dulu.
Dari sekian banyak orang yang mengingnkan kontak fisik dalam pengkaderan saya berasumsi (bukan su’udzon tapi dari argument yang disampaikan terlihat seperti itu) bahwa mereka ingin melakukan tamparan hanya karena keinginan pribadi, balas dendam dan kesenangan. “Dulu saya ketika dikader, saya ditampar, masa maru sekarang ga ditampar” lalu ada juga yang bicara “mana maru yang sombong teh, biar saya kasih pelajaran”. Setelah mereka menampar orang yang menampar akan mempunyai sebuah cerita kesenangan yang dapat diceritakan ke temannya yang lain, saya pikir hal itu tidak bermanfaat kecuali hanya menghabiskan waktu. Memang tidak semua orang beralasan seperti ini, tapi tetap saja selalu ada oknum-oknum yang seperti itu. 
Senior saya pernah berkata “Pengkaderan/pendoktrinan akan berhasil dengan dua cara pertama menekan kader sehingga mereka berada dalam keadaan yang benar-benar tertekan sehingga dalam seperti itu kita bisa memberikan pendoktrinan atau cara kedua kita membuat kader benar-benar dekat dengan kita sehingga bila mereka sudah dekat apa yang kita sampaiakan akan mereka turuti” Cara yang pertama saya pikir memiliki resiko yang besar, dan bila seniornya tidak profesional bahkan akan muncul justru kebalikannya kader-kader yang rusak dan merusak bangsa. Cara pertama sangat cocok dilakukan di lembaga yang memang khusus memiliki kajian yang mendalam dan bidang yang khusus dalam pengkaderan seperti militer. Cara yang kedua menurut saya yang bisa diterapkan di himpunan, panitia harus tegas, serius ketika harus serius berbaur ketika waktunya bercanda.
Dalam mengkader selain kebutuhan himpunan yang dipertimbangkan, satu hal yang sering dilupakan panitia adalah Kebutuhan MARU, coba amati maru apakah mereka datang ke sini untuk menjadi kader di himpunan? Tidak mereka datang ke sini memiliki berbagai macam tujuan dari akademis dan lain-lain, layaknya himpunan harus bisa memfasilitasi pengkaderan yang bisa menyeimbangkan aspek pemikiran (akademis, keilmuan dll), ruhani dan jasmani
Terakhir tentang penamparan dalam pengkaderan saya kadang berfikir,
-      Orang tua saya aja yang melahirkan saya, mengurus saya dari kecil, tidak pernah memukul saya apalai menampar di muka, lalu anda siapa saya? Apa yang telah anda berikan ke saya sehingga berani menampar saya 
-     Penamparan untuk pendidikan harus dilakukan oleh orang profesional, lihat saja STPDN yang biasa melakukan hal seperti itu sampai bisa memakan korban, senior saya menceritakan tentang temannya yang datang ke kampus untuk belajar, tetapi dia ikut pengkaderan dan ditampar seniornya, sampai telinganya berdarah dan tuli, bayangkan bagaimana perasaan orang tua yang pada awalnya dengan bangga menyekolahkan anaknya supaya bisa jadi orang sukses, terenggut masa depannya gara-gara perilaku seniornya yang tidak profesional. Mungkin di pengkaderan sebelumnya belum pernah terjadi, tapi kalo tahun ini terjadi, bagaimana? Ketua himpunan sebagai orang yang bertanggung jawab adalah orang yang pertama kali diminta pertanggungjawabannya, staf-staf yang lain tidak akan terlalu merasakan, apalagi senior-senior, mereka juga tidak akan terlalu tahu-menahu, kalau ada tuntutan dari polisi penguruslah yang akan mendapatkan efek yang paling besar, selain UPI sebagai sebuah lembaga tentunya
-         Ini adalah tahunnya teman-teman, dan yang tanggung jawab adalah teman-teman, yang paling tahu kondisi pengurus dan maru adalah teman-teman, Jadi rasionalkan yang ingin teman-teman lakukan, jangan pernah goyah kalo itu memang baik, tapi tetap harus mau menerima masukan dari luar.

Terakhir, mungkin unataian kata-kata ini tidak lebih dari sebuah kata-kata belaka, benar salahnya adalah hak bagi pembaca untuk menentukannya, tetapi sebuah masukan bagi penulis adalah sesuatu yang lebih bermakna.
Terima kasih dan mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan.

Kamis, 20 Oktober 2011

Bila Langkahmu Terhenti

Oleh: Jupri Supriadi
email
Bila kaki ini terasa berat untuk menuju-Nya,
Bila langkah ini terlalu pendek untuk mendekati-Nya,
Bila gerak ini terlalu lambat untuk bertemu dengan-Nya,
Hilangkan segala beban yang memberatkan langkahmu.
Singkirkan segala rintangan yang menghalangimu.
Hadirkan Dia berada dekat di hadapanmu.

Ilustrasi (johnlund.com)
dakwatuna.com -Hidup ini penuh dengan onak dan duri. Bila kita tak mampu menghindarinya, kita akan terkena duri yang membuat sakit diri dan langkah pun akan terhenti. Saat kita berjalan menatap jauh ke depan kita tak boleh lupa bahwa ada sedikit rintangan yang berada dekat kaki kita, ada duri-duri kecil yang mungkin akan membuat kita tak mampu lagi meneruskan perjalanan ini.
Begitulah hidup ini, saat kita terlalu jauh menatap masa depan, terlalu terobsesi untuk segera mencapai tujuan, kita tak boleh lupa untuk menatap diri kita, sekeliling kita, adakah rintangan yang akan datang menghadang? Adakah kekurangan yang mungkin akan menjadi penghalang?.
Menatap masa depan itu sangat penting, tapi jangan menyepelekan sudut pandang kita menatap. Jangan hanya menatap dari satu arah saja. Kita perlu menatap ke kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang.
Kita perlu menatap ke kanan dan ke kiri untuk melihat bagaimana orang lain berusaha untuk meraih kesuksesannya. Melihat usaha orang lain, bukan berarti kita harus ikut-ikutan seperti mereka. Mereka sudah punya jalur masing-masing. Tetaplah pada jalur yang telah Allah tunjukkan pada kita. Jangan pernah menyimpang ke jalur lain, karena belum tentu jalur orang lain itu baik bagi kita. Kalau kita berpindah satu jalur ke kanan atau ke kiri kemudian kita tertarik ke jalur lain yang dianggap lebih menyenangkan, lama kelamaan kita akan terlalu jauh meninggalkan jalur yang seharusnya kita lalui. Tetaplah pada jalur hidup yang benar dan jangan lupa berdoa kepada Allah : “ihdinash shiraathal mustaqiim”. (Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus)
Kita perlu menatap ke depan dan ke belakang untuk mengetahui sudah sejauh mana kita melangkah, dan berapa lama lagi kita akan sampai ke tempat tujuan. Apakah selama ini kita hanya berjalan di tempat, tak bergerak sama sekali atau justru kita berjalan mundur menjauhi tujuan hidup kita. Kalau itu yang terjadi segeralah memacu diri, meningkatkan motivasi, karena tak ada gunanya berdiam diri apalagi mundur takut pada kondisi. Hidup ini tanpa arti, bila tak mampu berkontribusi, bila tak mampu melangkahkan kaki, untuk menuju pada Ilahi.
Kita perlu menatap ke atas dan ke bawah untuk menghindari bahaya-bahaya yang akan menghalangi perjalanan kita. Mungkin ada duri yang akan menusuk kaki. Mungkin ada hujan yang membasahi diri. Mungkin ada lubang yang menjebloskan diri. Bila di dekat kaki kita ada duri, jangan membuang duri itu ke jalan orang lain. Tapi pendamlah duri itu di tempat yang tidak akan dilalui orang lain. Jangan menyelesaikan masalah dalam hidup ini dengan melemparkannya pada orang lain, tapi selesaikanlah dengan tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain. Bila kita tahu akan ada hujan yang turun, segeralah mencari naungan agar kita tak kebasahan atau kedinginan. Bila kita ditimpa suatu bahaya, carilah perlindungan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Karena Dialah tempat berlindung, Dialah tempat kita memohon pertolongan, dan hanya kepada-Nya lah kita memohon petunjuk.

Terus jalani hidup ini dengan semangat,
murnikan syahadat agar kita semakin taat,
tegakkan shalat agar Allah makin dekat,
perbanyak shalawat agar kita meraih syafaat kelak di akhirat,
tunaikan zakat agar ukhuwah semakin erat.
perbanyak shaum agar kita lebih sehat,
berangkat haji untuk persatuan umat,
jangan pernah berpikir sesat,
jangan pernah berlaku bejat,
karena semua yang kita perbuat
akan selalu dilihat
oleh Allah Yang Maha Melihat
dan malaikat yang selalu mencatat.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15501/bila-langkahmu-terhenti/#ixzz1bMvpEXMj

Rabu, 19 Oktober 2011

Kata Hati ataukah Bisikan Hawa Nafsu

oleh : Muhammad Mabrudy

Ada pepatah mengatakan ikutilah kata hati karena hati tifak pernah berbohong.

Memang seperti itulah adanya apa yang dikatakan hati selalu lah benar, namun kita harus berhati-hati terhadap apa yang didengarkan oleh diri kita, jangan-jangan apa yang kita dengar bukanlah kata hati tetapi ternyata yang kita dengar adalah bisikan hawa nafsu. Contoh yang paling sering ditemukan misalkan di dunia kampus ataupun di dunia kerja pada saat sesorang berada dalam mood yang jelek maka dalam dirinya mungkin aja ada bisikan "sudah ga usah kuliah, daripada memaksakan kuliah dengan bermalas-malasan mending bolos saja, toh hasilnya akan sama-sama tidak mendapatkan ilmu dengan diam di kelas sambil bermalasan, manfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan istirahat, tidurlah atau jalan-jalan lah untuk menenangkan hatimu!". Secara sekilas mungkin hal itu akan lebih bermanfaat apalagi bila kondisi tubuh seseorang sedang labil.

Namun "hati" tidak pernah menjerumuskan pemiliknya, walaupun kadang pemiliknya sering memperkerjakan hati melebihi batas kemampuan, ketika ada dalam kondisi diatas maka "hati" akan berkata : "yang harus dilakukan bukan lari dari kenyataan tapi pada kondisi ini kita harus sebisa mungkin meningkatkan mood kita supaya adanya kita di sana memiliki manfaat walaupun hanya sedikt itu lebih baik daripada mengisi waktu dengan hal sia-sia, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya."

Begitulah yang harus kita fahami tentang kedua hal tersebut, karena kadang-kadang kita tidak bisa membedakan antara keduanya, memang perbedaannya sedikita tapi efek yang akan ditimbulkan tidak akan menghaslilkan sesuatu yang berbeda. Banyak orang yang mengklaim saya telah mengkuti "kata hati" saya, padahal tdak lebh yang mereka turuti hanyalah sekedar "bisikan hawa nafsu" yang menyamar menjadi sesuatu yang tidak kita kenali.

Kau adalah orang yang paling tahu tentang dirimu
Kenalilah dirimu lebih dalam, karena orang yang paling tahu tentang dirimu adalah dirimu,
Kenalilah hatimu, tuk memaham dirimu lebh dalam

Rabu, 12 Oktober 2011

Surat Untuk Orang No 1 di Indonesia

Assalamu'alaikum,
Pa presiden yang baik hati, siapakah orang yang ada di Indonesia yang tidak mengenalmu, berjuta-juta orang menumpukan banyak harapan di pundakmu, berharap akan suatu kesejahteraan, berharap akan suatu kebahagiaan, berharap hidup di negr ini daengan damai,

Kami tahu, tidak mudah menjadi presiden, karena kami pun tahu mengatur diri sendiri saja begitu sulit apalagi mengatur orang di 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil lainnya, 
Kami tahu bahwa menjadi presiden tidak akan selalu tenang karena banyak sekali orang yang ingin menggulingkan jabatanmu,
Kami tahu kau adalah manusia bukannya seorang dewa yang bisa melakuakan sesuatu semudah membalikan tangan,

Tapi ingatlah bahwa "presiden" adalah sebuah amanah yang diembanakan oleah rakyat dipundakmu, bukan oleh pengusaha, bukan pula oleh penguasa asing apalagi pleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. amanah ini datang untuk ditunaikan bukan untuk dikhianati bukan diingkari karena amanah ini akan dimintai pertanggung jawab kelak di akhirat.

Engkau bertanggung jawab bila ada orang yang terdzolimi karena kekuasaanmu, apalagi bila kekuasaanmu kau jadikan untuk memenuhi keinginanmu, memperkaya diri, menempatkan kelauarga di jabatan-jabatan ideal, memenangkan partaimu apalagi kalo politik busuk yang kau ciptakan. Semua itu akan kau pertanggungjawabkan.
Mungkin tulisan dari rakyarmu ini kurang sopan, tapi inilah rakyatmu, rakyat yang harus kau bina, dia tidak mengerti tentang ekonomi, pendidikan, keamanan, politik, korupsi atau hal-hal lain di negara ini, ia hanya mengingnkan kebaikan untuk negeri ini

Seminggu lagi adalah dua tahun pemerintahanmu yang kedua, ketika banyak hal orang lakukan untuk mengekspresikannya tapi mungkin inilah yang bisa dilakukan seorang rakyat, mungkin juga tulisan ini tidak adakn pernah dibaca, tapi beginilah yang dapat dilakukan.
Kami tahu kau presiden, kami tahu kau orang no 1 di Indonesia, kami tahu kau orang yang bertanggung jawab atas negeri ini.
Terima kasih pa Presiden, semoga bisa menjadi pemimpin yang adil

Catatan Sebelum Tidur (1)

"Tempatmu pulang adalah dimana ada orang yang memikirkanmu"
oleh : Muhammad Mabrudy
"Tempatmu pulang adalah dimana ada orang yang memikirkanmu"
Kata-kata diatas mungkin tidak asing bagi sebagian orang, tapi akan terasa asing bagi orang yang lain. Yups itulah kata-kata yang sering diucapkan naruto pada salah satu episode. Bukan berarti ingin membanggakan salah satu okoh kartun ini tapi sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk mengambil pelajaran dari semua apa yang dilihatnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan diatas pertama kita harus mengevaluasi diri, apakah yang sering kau pikirkan setap hari? setiap jam? Tentunya banyak hal yang dipkrkan dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hal yang kau pikirkan adalah sesuatu yang kau inginkan, bila kau memikirkan kebaikan maka kebaikan itulah tempatmu pulang begitu juga sebaliknya.
Seorang dosen pernah berkata ; "Jika kau mengingnkan sesuatu maka pikirkanlah setiap hari!, bayangkanlah!, maka kau akan mendapatkannya". Awalnya saya tidak percaya dengan statemen seperti itu tapi apa salahnya mencoba, toh itu tidak merugikan diri sendiri juga dan hasilnya LUAR BIASA, saya mendapatkan apa yang selalu saya pikirkan dan bayangkan walaupun saya mendapatkannya bukan dengan cara yang belum pernah saya bayangkan karena hakikatnya Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan.
Namun, kita juga harus berhati-hati, jangan-jangan apa yang kita pkirkan melebihi hak yang harus kita tunaikan kepada sang Pencipta yang selayaknya kita pikirkan setiap saat. Apakah semua hal boleh selalu kita pikirkan,? bagaiman bila hal tersebut merupakan sesuatu yang mubah? atau bahkan seseorang yang bukan menjadi hak kita? Wajarlah bila kita menginginkan hal yang mubah atau bahkan memilirkan sesseorang yang bukan hak kita, karena kita adalah manuasia yang memiliki hawa nafsu, tapi bila kita menjadi terlena, terbuai karena hal ini maka manusia justru akan lebih hina daripada hewan. Salurkan kepada sesuatu yang baik, sibukanlah dengan sesuatu yang bermanfa'at bila kita berada dalam kondisi tersebut.

PIkiran adalah sesuatu yang luar biasa yang dimiliki manusia, manfaatkanlah sebaik-baiknya!

Realita

ditulis oleh : Muhammada Mabrudy (mahasiswa jurusan Pendidikan Fisika angkatan 2008)


"Jangan berlindung dibalik so alim and so jilbaber,so merasa diri kalian paling beriman dan paling SUCI!!!sedangkan kalian hanya mementingkan DIRI SENDIRI..BINASA lah org2 seperti itu,BINASALAH didalam KEMUNAFIKAN"


Kutipan diatas saya copy bagian dari tulisan orang, ketika kita membaca potongan ini tampak menakutkan sekali orang yang nulis, begitu bencikah dia kepada orang-orang yang disebutkan? sampai ada kata-kata binasalah. Tapi bagi seorang yang bijak, jangan pernah memandang atau menilai orang dari satu pihak saja, jadika tulisan diatasa sebagai bahan introfeksi diri walaupun kita yang membaca tidak pernah melakukan apa yang disebutkan orang diatas.

Banyak yang sering menyebutkan so 'alim karena orang berjenggot atau memakai baju "koko" atau yang menyebutkan so suci gara-gara orang memakai "jilbab besar", banyak juga yang menyebutkan itu adalah topeng belaka. Padahal orang yang berbicara mungkin punya rasa kecewa terhadap seseorang sehingga mengeneralkan semuanya, atau bahkan mereka adalah orang-orang spesial yang dikiramkan oleh Allah swt untuk menguji keimanan kita. Kita harus berbangga karena ada orang-orang seperti ini, karena mereka peduli pada sikap kita, karena mereka berniat mengkoreksi kita. Jangan lantas memudarkan apa yang telah menjadi identitas sita, karena bagaimana pun kita pasti ada dinamika pro dan kontra



"Orang bijak akan selalu berfikiran positif,mereka akan menjadikan segala yang datang padanya baik ataupun buruk sebagai penyulut semangat bukan menjadikannya sebagai peredup iman"

Senin, 10 Oktober 2011

Air Mata Kesucian


Oleh Abu Miftah
Pagi cerah. Seperti biasa aktifitas mobilisasi manusia hilir berganti. Deru mesin kendaraan, dan asap kendaraan klop menjadi suatu yang lumrah. Namun berbeda dengan bapak satu anak ini, semua itu tak berarti, karena pagi itu dengan sepeda motor yang disewanya 30 ribu per hari, ia harus menyelusuri setiap lorong dan koridor jalan untuk berdagang kerupuk kulit milik temannya. Baginya itu belum cukup, sebagai tambahan, setiap Sabtu bersama temannya sebagai pelayan makanan untuk acara perkawinan. Hebatnya, ia juga mitra kerjaku. Tugasnya menjaga pameran (stand guide) sekaligus menjual film VCD Edukasi anak. Kerja keras ini, tak lain hanya untuk memberikan nafkah istri dan anak.
Kini bapak ini, tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Waktu kecil hidupnya ia habiskan waktunya bersama orang tua di Bojong Gede, Depok, Bogor. Aku menamakannya Budi, karena ia memiliki akhlak yang baik. Ini bukan nama sesunguhnya. Tapi bagiku nama ini menjadi sejarah perjalanan hidupku. Ia figure ayah yang bertanggung jawab.
Keesokan harinya. “Siang nanti, selama 4 hari ente jaga pameran di Pabrik ASTRA, Sunter, Jakarta Utara,”ucapku, menelpon dari kejauhan. “Siap pa, seperti biasa, Jam 11 da sampe sana ya,”jawabnya tanpa keluh. Kesigapannya yang membuatku selalu mempercayainya. Kerja dan jujur adalah motto hidupnya. Kesederhanaan membuat otak dan tenaganya tak mau berhenti bergerak. Aku merasakan bahwa, Budi bakal menjadi orang sukses. Satu hal Lagi yang membuatku senang padanya, jika ia tidak punya uang, ia tetap tersenyum, bahkan dalam catatanku ia sudah lebih dari 3 (tiga) kali berjalan kaki sejauh 10 km dari terminal lebak bulus, menuju rumah orang tuaku di bilangan Pondok Pinang, hanya untuk bertugas. Terkadang memang aku jemput. Namun ketika ditanya, jawabnya, hanya singkat, “aku salah perhitungan ongkos ”. Aku hanya tersenyum. Sejujurnya aku tak mengetahui siapa Budi sebenarnya.
Budi tetap saja budi, kejujuran membawa setiap orang senang bergaul padanya. Ini terbukti ketika ia menjaga pameran di sebuah masjid perkantoran dibilangan, Fatmawati, Jakarta Selatan. Budi mengakui , omsetnya tak lebih dari 70 ribu dan ia pun meminta maaf. “Hari ini kasetnya kurang laku, beda dengan Jumat lalu. Aku sudah berusaha untuk menyebarkan brosur,”akunya, sambil membuka tali kardus yang terikat di sela-sela besi bangku motorku yg dipinjam. Aku hanya bisa tersenyum, walau rugi honor tetap saja diberi sesuai dengan kesepakatan.
Waktu terus bergulir. Sebentar lagi Ramadhan. Sebagai Stand Guide Sudah banyak yang dikerjakan Budi. Aku dan Budi, berencana akan ngisi dongeng di Bandung. Maklum saja, setiap orang sudah mengetahui bahwa profesiku adalah pendongeng (story teller). Singkat cerita, aku mengajak pertemuan dengan beliau untuk program Ramadhan. Alhasil, aku membebaskan dia untuk mencari tempat untuk pameran dengan catatan kesepakaan konsinyasi (bagi hasil).
Satu hari sebelum Ramadhan. Pesan singkat bunyi di HPku, aku lihat ternyata dari Budi. Akupun senang bukan kepalang. Isinya: “Pa Ramadhan, aku sudah punya data beberapa masjid dan beberapa Tk yang mau. Nanti aku dibantu temanku. Oya, bagaimana Bandung, kapan berangkat? ”. Aku tak tinggal diam.“Bandung tunggu khabar, Sukron, aku tunguu…,”balasku.
Ramadhan tiba. Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berikhtiar. Begitu juga denganku Ramadhan ini aku fokoskan untuk beribadah, jadi aku serahkan semua pada Budi. Tidak seperti tahun lalu, justru momen ini aku gunakan untuk mencari titik pameran baik itu masjid, perkantoran maupun TK. Sepekan sudah Ramadhan, namun Budi tak kunjung khabar. Pesan singkat bunyi pun aku lunjurkan pada nomer Esianya, tapi tak satu pun kata yang muncul di HPku. Dalam benaku mungkin ia konsentrasi untuk beribadah. Aku tak lagi berharap.
Sebulan sudah keberkahan Ramadhan meninggalkan umat Islam. Aku sempat mengirim pesan singkat kalimat Idul Fitri pada Budi. Lagi-lagi Budi, tak membalas. Ketika aku membuat program Workshop Mendongeng di Bandung, ingatku kembali pada Budi. SMS ku gulirkan kembali. Isinya: “pa khabr, sekarang gawe dimana?”. Saat itu kembali tak terbalas. Menjelang Magrib, pesan singkat berbunyi, disini tertulis message bernama Budi. Akupun segera membuka, Isinya: “pa Budi sudah meninggal puasa ke 3,”. Aku kaget bukan kepalang, secepatnya pesan singkat aku balas, Isinya: “Innalilihahi wainnaliliahi rojiun, sakit apa?”. Namun pesan singkat tak kunjung terbalas. Rasa penasaran semakin menjadi. Aku tak tinggal diam, aku segera menelpon, dan Alhamdulillah telpon di angkat. Suara seorang ibu muda terdengar bersama anaknya, “Wa’alaikum salam pa, ia pa, Budi, puasa ke tiga sudah tak ada. Ia sakit sesak nafas. Temannya yang di Ciputat juga kaget,”ucapnya, terdengar jelas. Akupun hanya membisu.”Ya, maaf bu, semoga ibu sabar dan Budi selalu dalam lindunganNYA,”jawabku kaku.
Budi, kepergiannya membuat setiap orang bertanya-tanya. Sosok yang tegar, semangat dalam merelungi hidup, siapapun tak menyangka ia mengidap penyakit kanker yang sudah menyebar ke paru-paru. Ketika bekerja, tak menampakkan keluh kesah. Ia selalu senang dan bahagia. Maafkan aku, Budi, air mata ini hanya untuk kesucian seorang ayah yang selalu setia pada janji membahagiakan keluarganya. Amin
Kamis, 29 September 2011
Selamat Jalan Kawan

Ketika Wanita Modern Menjadi Berani dan Agresif Terhadap Lelaki

Ibunya Imran memicingkan mata saat melihat kawan-kawan wanita anaknya melambaikan tangan dan bersikap ramah serta ceria kepada anak lelakinya.Imran yang pada sore Ahad yang cerah mengajak Ibunya ke supermarket itu kebetulan berpapasan dengan sekumpulan rekan wanita dan lelaki yang dimata Ibunya Imran, wanita-wanita itu terlihat terlalu lincah dan mesra.Hal itu lantas membuat Ibunya Imran yang sudah beranjak tua itu menjadi gelisah serta tidak nyaman, maka Ibu itu merasa risih.
“Zaman Ibu dulu, tidak ada anak gadis yang dengan kawan lelakinya begitu mesra dan akrab, apalagi dengan kamu saja yang hanya kawan begitu mesra, bagaimana dengan kekasihnya yaa..? kok mereka begitu berani terhadap lelaki..?” gumam Ibu bingung kepada Imran.
Lantas Imran pun menjawab, “Ah Ibu, zaman sekarang beda dengan zaman dahulu, kalau kawan-kawan Imran lincah karena memang hampir semua anak gadis di kota besar lincah dan menarik Bu, kalau tidak begitu bukan anak gadis namanya, nenek-nenek dong..” Gurauan Imran itu pun lantas membuat wajah Ibunya nampak heran.
Tidak lama kemudian Imran paham lalu menyergahnya dengan mengatakan, “Bahkan kawan-kawan Imran yang anak gaul, kalo mau berpisah pada cipika-cipiki, lelaki sama perempuan Bu, cuma Imran saja yang tidak ikut pergaulan yang seperti itu..” Lalu dengan wajah kebingungan Ibu berkata, “Apa itu cipika-cipiki?”
Ibunya Imran memang sudah lama tidak melihat kawan-kawannya Imran. Biasanya Imran membawa kawan-kawannya ke rumah namun semuanya lelaki. Baru sekali ini Ibu melihat bagaimana bebasnya dan beraninya pergaulan anak perempuan dengan anak lelaki di kota besar.
Saat ini Imran memang sudah kuliah tingkat 2 dan sebelumnya Ibu melihat kawan-kawan Imran di sekolah menengah dahulu biasa-biasa saja, tidak begitu akrab dan mesra serta berani dengan lelaki. Hal ini mungkin dikarenakan Imran sebelumnya lulus dari SMP dan SMA di pesantren sehingga adab-adab pergaulan sangat dijaga sehingga Ibu terperangah ketika Imran menjelaskan bahwa cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri) sangat biasa di lingkungan kampus Imran.
Dalam hatinya Ibu berpikir, “kalau dulu cipika-cipiki hanya perempuan dengan perempuan saja, namun sekarang perempuan dengan lelaki.”
‘Dekat’, ‘merasa dekat’, ‘sudah seperti saudara sendiri’, ‘jangan telalu berlebihan’, ‘ah gak ada perasaan apa-apa kok’, ‘ah gak ada yang mikirin’, ‘dimana-mana begitu kok’, ‘orang gak ada apa-apa’, itulah ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan oleh anak-anak muda zaman sekarang yang memiliki pergaulan sangat dekat dan akrab antara lelaki dengan perempuan.
Padahal mereka jelas-jelas bukanlah muhrim namun mereka tertawa bersama seperti saudara sendiri, makan dan minum dari piring dan gelas yang sama bahkan terkadang satu gelas diminum dari sedotan yang sama antara kawan lelaki dengan kawan perempuan.
Dalam pergaulannya, mereka itu bukan saudara, tidak pacaran, apalagi suami istri namun mereka mengaku bahwa itu adalah bagian dari cara pergaulan modern saat ini. Padahal jelas-jelas kedekatan seperti itu antara kawan lelaki dan kawan perempuan sungguh tidak dapat dibenarkan dalam islam.
Ada adab-adab pergaulan yang harus dijaga antara lelaki dan perempuan. Namun itu semua sudah longgar dimana di jaman modern seperti saat ini, kaum wanita merasa bebas untuk tertawa, duduk berdekatan dengan lelaki, minum dan makan bersama dengan kaum lelaki padahal dalam Islam dilarang untuk ikhtilat (bercampur).
Seringkali orang-orang yang merasa bahwa adab-adab pergaulan di dalam Islam tersebut sebagai suatu yang berlebihan, menanyakan tentang ayatnya mana? Menanyakan mana dalilnya tentang hijab tentang ikhtilat dan lain-lain.
Sungguh bila mereka mempelajari dan memikirkan sedikit, mengapa kaum wanita ketika sholat selalu ada dalam barisan belakang, hal ini agar lelaki dan wanita tidak bercampur. Maka cukuplah itu sebagai jawaban bahwasanya semua kaum wanita harus memisahkan diri dalam kegiatan apapun dengan kaum lelaki. Dan bila melihat bahwa dalam Al-Quran dikatakan bahwa; hidup ini adalah ibadah, (merujuk pada surah Adz Dzariyaat ayat 56 yang berbunyi ,“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51] : 56)
Maka dalam keadaan tidak sedang sholat pun seharusnya semua yang dilakukan bernilai ibadah termasuk pemisahan yang jelas antara perempuan dengan lelaki karena ketahuilah bahwasanya hal itu dapat menghindari fitnah dan dapat memuliakan wanita.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya'.” (QS.An-Nur [24] : 30)
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'.” (QS. An-Nur [24] : 31)