Rabu, 13 April 2011

PRINSIP KETERATURAN ALAM MENURUT AL-QUR’AN


Oleh: Mukhtar Salim, M.Ag
Sebelum mengungkap konsep keteraturan alam semesta dalam prespektif al-Qur’an, terlebih dahulu kita lihat pendapat para ilmuan tentang hal ini. Dalam kajian ilmu fisika dasar, dikenal “Hukum Entropi” yang menyatakan; “Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, sistem yang teratur akan berkurang keteraturannya dan berubah menjadi tidak stabil. Hal ini merupakan pengetahuan umum, yang banyak di antaranya dapat diamati dalam hidup keseharian. Sebagai perumpamaan, jika alam semesta diibaratkan sebagai sebuah gua yang dipenuhi dengan air, batu, dan debu dibiarkan untuk waktu yanglama, maka dapat dipastikan setelah ratusan atau bahkan ribuan tahun kemudian akan didapati bahwa gua dengan segala isinya dalam kondisi yang berantakan. Inilah yang disebut dengan entropi, dan akal manusia dapat menerimanya. Namun, jika beberapa miliar tahun kemudian, didapati kenyataan bahwa batuan yang ada di dalam gua telah diukir menjadi sebuah patung yang indah dengan ukiran yang sangat rumit, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari realitas ini adalah; bahwa keteraturan tidak dapat dijelaskan dengan hukum-hukum alam. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah “adanya kekuatan yang maha besar dibalik kejadian atau realitas ini”. Dalam pandangan Islam, kekuatan yang maha besar inilah yang dimaksud dengan “Kuasa Allah”. Dengan kuasa yang dimiliki-Nya, Allah mengatur alam semesta ini dengan santat rapih dan teratur.
Ringkasnya, untuk memahami keteraturan alam semesta diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang dalam dan luas. Dalam presektif al-Qur’an, dikatakan bahwa alam semesta dirancang, diatur, dan dijaga oleh Allah. Al Quran menjelaskan bagaimana bumi dan langit beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya dijaga dengan kuasa-Nya yang agung (QS. Faathir, ayat 41). Ayat ini memberikan penegasan terhadap adanya prinsip keteraturan alam semesta. Bahkan dalam ayat yang lain, al-Qur’an secara tegas menolak kepercayaan kaum materialisme, yang menyatakan bahwa alam semesta adalah sekumpulan materi tak beraturan (QS. al-Mu'minuun, ayat 71).
Sebagai bukti nyata bahwa alam semesta memiliki keteraturan, panca indera manusia dapat secara langsung menyaksikan terhadap tata surya. Tata surya adalah salah satu contoh keselarasan indah yang paling mengagumkan yang dapat disaksikan. Terdapat sembilan planet dengan 54 satelit yang diketahui dan benda-benda kecil yang tidak diketahui Secara lebih terinci, Harun Yahya mengungkapkan; Pada struktur tata surya, manusia dapat menemukan contoh lain dari keindahan keseimbangan. Keseimbangan antara gaya “sentrifugal planet” yang dilawan oleh gaya gravitasi dari benda primer planet tersebut. Dalam astronomi, benda primer adalah benda yang dikitari oleh benda lainnya. Benda primer bumi adalah matahari, benda primer bulan adalah bumi. Tanpa keseimbangan ini, segala sesuatu yang ada di tata surya akan terlontar jauh ke luar angkasa. Keseimbangan di antara kedua gaya ini menghasilkan jalur (orbit) tempat planet dan benda angkasa lain mengitari benda primernya. Jika sebuah benda langit bergerak terlalu lambat, dia akan tertarik kepada benda primernya; jika bergerak terlalu cepat, benda primernya tidak mampu menahannya, dan akan terlepas jauh ke angkasa. Sebliknya, setiap benda langit bergerak pada kecepatan yang begitu tepat untuk terus dapat berputar pada orbitnya. Lebih jauh, keseimbangan ini tentu berbeda untuk setiap benda angkasa, sebab jarak antara planet dan matahari berbeda-beda. Demikian juga massa benda-benda langit tersebut. Jadi, planet-planet harus memiliki kecepatan yang berbeda untuk menjamin tidak menabrak matahari atau menyebabkannya terlempar menjauh ke angkasa (http://www.harunyahya.com/indo/buku/semesta011.htm).
Secara tegas al-Qur’an menyatakan bahwa setiap benda angkasa memiliki keseimbangan. Masing-masing benda tidak akan melampaoi garis edar (orbit) yang telah ditetapkan baginya (QS. Yaasin, 36: 40). Namun hal ini ditolak oleh ahli astronomi penganut materialisme bersikukuh bahwa asal mula dan kelangsungan tata surya dapat dijelaskan karena kebetulan. Lebih dari tiga abad lalu, banyak pemuja materialisme telah berspekulasi tentang bagaimana keteraturan menakjubkan ini bisa terjadi dan mereka gagal sama sekali. Bagi penganut materialisme, keseimbangan dan keteraturan tata surya adalah misteri tak terjawab. Namun bagi beberapa ahli astronomi yang lain, tata surya dan alam mengandung keseimbangan sempurna.
Kepler dan Galileo, dua ahli astronomi yang termasuk orang-orang pertama yang menemukan keseimbangan paling sempurna, mengakuinya sebagai rancangan yang disengaja dan tanda campur tangan ilahiah di seluruh alam semesta Isaac Newton, yang diakui sebagai salah satu pemikir ilmiah terbesar sepanjang masa, pernah menulis: Sistem paling indah yang terdiri dari matahari, planet, dan komet ini dapat muncul dari tujuan dan kekuasaan Zat yang berkuasa dan cerdas. Dia mengendalikan semuanya, tidak sebagai jiwa namun sebagai penguasa, dan disebabkan kekuasaan-Nya, Dia biasa disebut sebagai "Tuhan Yang Maha Agung." (http://www.harunyahya.com/indo/buku/semesta011.htm).
Di samping keseimbangan yang menakjubkan di atas, posisi bumi di dalam tata surya dan di alam semesta juga merupakan bukti lain kesempurnaan penciptaan Allah. Temuan terakhir astronomi menunjukkan pentingnya keberadaan planet lain bagi bumi. Ukuran dan posisi Yupiter, sebagai contoh, ternyata begitu penting. Perhitungan astrofisika menunjukkan bahwa, sebagai planet terbesar dalam tata surya, Yupiter menjamin kestabilan orbit bumi dan planet lain. Peran Yupiter melindungi bumi dijelaskan dalam artikel "How Special Jupiter is" karya George Wetherill, sebagaimana dikutip oleh Harun Yahya, yang menyatakan;
Tanpa planet besar yang tepat ditempatkan di posisi Yupiter, bumi tentunya telah ditabrak ribuan kali lebih sering oleh komet dan meteor serta serpihan antarplanet. Jika tanpa Yupiter, kita tidak mungkin ada untuk mempelajari tata surya. Intinya, struktur tata surya telah dirancang khusus bagi kemaslahatan hidup manusia (http://www.harunyahya.com/indo/buku/semesta011.htm).
Bumi diciptakan oleh Allah untuk hidup dan kehidupan manusia. Sehingga menjadi nyata bahwa alam semesta ini diciptakan dan diatur oleh Allah. Alasan mengapa sebagian orang tidak dapat memahami hal ini adalah karena prasangka mereka sendiri (QS. Shaad ayat 27). Namun pemikiran yang murni berdasarkan kenyataan tanpa prasangka dapat dengan mudah memahami bahwa alam semesta diciptakan dan dikendalikan oleh Allah bagi manusia untuk hidup. Pemahaman secara eksplisit diungkapkan Al Quran: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran, ayat 190-191).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka menjadi jelas bahwa al-Qur’an memiliki pandangan bahwa alam semesta ini bukan merupakan benda-benda yang terkumpul acak, tidak bertujuan dan tidak berarah. Alam semesta ini dirancang dengan sengaja sebagai tempat tinggal bagi kehidupan manusia. Ke mana pun melihat, manusia menyaksikan pengaturan luar biasa tepat dalam struktur alam semesta ini. Panca indera manusia melihat bagaimana penyusunan dan ukuran bumi tempat kita hidup dan bahkan atmosfernya benar-benar seperti yang dibutuhkan. Di samping itu, manusia juga dapat menyaksikan bagaimana cahaya dikirimkan dari matahari, air yang kita minum, dan atom-atom yang menyusun tubuh manusia, serta udara yang terus-menerus dihirup paru-paru, semuanya sesuai kebutuhan hidupnya.
Singkatnya, setiap kali mengamati segala sesuatu di alam semesta, manusia mendapati rancangan luar biasa yang tujuannya adalah untuk memupuk kehidupan manusia. Implikasi rancangan ini juga jelas. Rancangan tersembunyi dalam setiap detail alam semesta merupakan bukti paling meyakinkan akan eksistensi dan keberadaan al-Khaliq (Sang Pencipta), yang mengendalikan setiap detail dan memiliki kekuatan serta kebijaksanaan yang tidak terbatas. Kesimpulan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan modern ini merupakan sebuah fakta yang difirmankan oleh Allah di dalam al-Quran (QS. al A'raaf, ayat 54).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar