Rabu, 23 November 2011

HELIOSENTRIS DAN PERKEMBANGANNYA

Ditulis oleh : Muhammad Mabrudy

Bumi adalah tempat manusia berpijak dan merupakan satu hal yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita oleh karena itu maka tidak aneh beila ilmu tentang bumi berkembang sejak dulu kala. Begitu juga dengan matahari yang merupakan sumber cahaya bagi manusia dan makhluk lainnya di muka bumi ini.
Pembicaraan tentang bumi dan matahari adalah pembicaraan yang sangat menarik sejak zaman dahulu kala. Perbicaraan ini sudah dimulai semenjak zaman Pra-Sains ketika para filosofi di berbagai macam peradaban seperti Mesir, Mesopotamdia, India dan peradaban-peradaban awal di bumi yang mengungkapkan pendapat mereka tentang bumi mulai dari bentuknya yang banyak mengandung nilai spirit begitu juga tentang matahari dan benda-benda langit lain yang tentunya sangat kenral dengan nilai spiritual dan pekembangan budaya di tempat ilmu itu berkembang
Perkembangan Heliosentris tidak akan pernah lepas darai berkembangnya geosentris yang semenjak zaman pra-sains selalu menjadi perdebatan di kalangan filosofi ataupun ilmuan di berbagai macam tempat. Pandangan geosentris zaman pra-sains diungkapkan oleh para ilmuan Yunani seperti Anaximander, Phytagoras, Eudoxus, Hipparchus Klaudiusz Ptolemeusz dan Aristoteles yang menyatakan faham mereka tentang geosentris yaitu bahwa bumi dan manusia adalah pusat dari tata surya dan planet serta benda-benda langit lainnya bergerak mengelilingi bumi termasuk matahari. Pendapat ini diyakini oleh sebagian besar ilmuan zaman itu walaupun pada zaman ini sudah ada ilmuan yang mengungkapkan tentang teori heliosentris yaitu Aristachus di Mesir.
Klaudiusz Ptolemeusz mengungkapkan fahamnya tentang pandangangeosentrisnya pada sebuah karyanya yaitu "Megale syntaksis". Pada karyanya ini Ptolemeuszz mengungkapkan bahwa bumi merupakan pusat dari tata surya, planet dan matahri bergerak mengelilingi bumi secara seragam dengan lintasan melingkar yang semakin dekat lingkarannya semakin kecil.
Pemahaman geosentris ini terus bertahan sampai diterjemahkan ke banyak bahasa salah satunya diterjemahkan ke bahasa arab yang kemuddian dipelajari oleh ilmuan ilmuan muslim di sana. Mereka banyak mengkeritik pandangan geosentris yang tertera pada karya besar Ptolemeusz yang berjudul Almagest pada abad ke-8 M, salah satunya buku tersebut dikeritik oleh Al-Farghani pada abad ke-9 M telah mengkoreksi data-data dan cara-cara perhitungan astronomis yang lebih akurat dan ilmdiah daripada Ptolemeusz. Pada abad yang sama Tsabit ibn Qurrah juga mengkoreksi sistem bola langit Ptolemeusz.
Kemuddian Al-Battani pada abad ke-10 M telah sampai pada upaya mengkoreksi dan mengkritik konsep-konsep dasar sistem astronomi Ptolemeuszz, kemuddian dia merenovasi astronomi Ptolemus yang statis menjadi astronomi dinamis sehingga karya-karyanya masih dikutip oleh para astronom terkemuka Eropa sampai abad ke-18 M. Selain itu Ibn al-Haitsam pada abad ke-11 M telah melukiskan gerak planet  dalam suatu model non-Ptolemeusz, dia juga menggugat tafsiran Ptolemeusz terhadap langit-langit sebagai bentuk-bentuk geometris abstrak belaka. Al-Biruni juga pada abad ke-11 telah mengajukan untuk pertama kalinya dalam dundia astronomi mengenai gerak bumi mengelilingi matahari, dan telah membahas pula kemungkinan rotasi bumi di sekeliling sumbunya.
Akhirnya ilmuan muslim yang paling fenomena Nashiruddin al-Thusi pada abad ke-13M mendirikan observatorium di Maragha, yang menurut Nasr, menjadi jembatan penghubung perkembangan astronomi Islam dengan astronomi Eropa. Observatorium ini memiliki instrumen-instrumen astronomis yang sangat maju dan lengkap pada masanya, dan menjadi pusat ilmdiah yang masyhur di kalangan sarjana di Timur dan Barat. Al-Thusi mengajukan model planet yang baru, yang non-Ptolemeusz. Salah satu temuan ilmdiahnya ddiabadikan hingga sekarang dengan istilah Tusi couple (pasangan Tusi). Model planet baru al-Thusi itu memang diteruskan dan diselesaikan oleh murid-muridnya seperti Ibn Syathir dan Quthbuddin al- Syirazi. Teori yang dimaksud adalah teori heliosentris yang kita kenal sekrang.
Namun ilmuan yang lebh kita kenal sebagai orang yang menyatakan pandangan heliosentris secara eksperimen adalah Nicolas Copernicus. Dia adalah seorang agamawan yang bekerja sambilan sebaga ilmuan di gereja dia juga sudah mempelajari penemuan-penemuan filosof Yunani sebelumnya tentang pandangan geosentris. Copernikus mengungkapkan pandangannya melalui karyanya yaitu De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-benda Langit) pada abad ke-15, yang melukiskan teorinya secara terperinci dan mengedepankan pembuktdian-pembuktdiannya. Untuk menghindari kontroversi yang terjadi di pihak gereja maka pada kata pengantar buku ini Copernikus menyampaiakan bahwa buku ini hanya merupakan pemapara model tata surya secara matematis.
Dalam buku itu Copernicus mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari. Tapi, seperti halnya para pendahulunya, ddia membuat perhitungan yang serampangan mengenai skala peredaran planet mengelilingi matahari dan pada karyanta ini juga dia masih menyebutkan bahwa lintasan planet-planet itu berbentuk bulat. Copernikus juga menyampaikan keberatannya tentang possi merkurius dan venus pada pandangan geosentris.
Ide yang disampaikan oleh Copernikus ini banyak memiliki kesamaan dengan ide yang disampaikan oleh Nashiruddin Al-Thusi, ada ilmuan yang menyebutkan bahwa sebenarnya Al-Thusi lah sebenarnya yang pertama kali menyampaikan pendapatnya tentang heliosentris secara ilmiah dan Copernikus hanyalah menjiplak apa yang ditemukannya, tetapi karena faktor sejarah Copernikus lebih dikenal sebagai pencetus walaupn Aristachus jauh-jauh hari juga telah menyampaikan pendapatnya tentang heliosentris, tapi apa yang dismapaikan oleh Aristachus ini tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang kuat.
Hasil penemuan-penemuan di atas kemudian diamati oleh ilmuan besar yaitu Tyco Brahe, kemudian dia mengamati astronomi yang mulai dari peristiwa gerhana matahari, keberadaan jupiter dan saturnus yang berada berdekatan di langit, munculnya sebuah bintang pada tahun 1572 di suatu titik yang tidak terlihat sebelumnya dan benda langit lainnya. Peristiwa-peristiwa ini sebelumnya sudah dipredksi pada tabel Ptolemius melenceng sejauh satu bulan, sementara prediksi dari tabel Copernicus melenceng beberapa hari. Menurut Tycho, table astronomi seharusnya bisa memberikan akurasi lebih tinggi bila ditunjang dengan pengamatan planet yang lebih akurat dalam rentang waktu yang lama.
Kemudian Tyco Brahe mendirikan observatoriumn dan di observatoriumnya inilah ia melakukan pengamatan komet pada yang belum pernah diamati oleh orang sebelumnya. Di observatoriumnya juga Tycho melakukan pengamatan yang akurat terhadap berbagai benda langit. Hasilnya adalah data tentang posisi planet-planet dan 700 bintang selama 20 tahun. Namun ia memiliki kesulitan untuk mengolah data tersebut karena sehingga mempekerjakan seorang ahli untuk mengolah data tersebut. Orang itu adalah Johannes Kepler seorang yang sangat mahir matematika. Kepler memiliki tugas melakukan analisis matematika terhadap data yang dimiliki Tycho Brahe.
Setelah Brahe meninggal, dia mewariskan catatan-catatan hasil penelitian yang pada akhirnya dilanjutkan oleh Kepler yang kemudian menghasilkan Hukum Kepler. Hukum Pertama Kepler menyebutkan bahwa semua planet mengelilingi Matahari dengan bentuk orbit elips, bukan lingkaran, dan Matahari terletak bukan di tengah elips melainkan di titik fokusnya. Nmun dari hasil penelitian pun elips yang dimaksud memiliki keragaman, ada yang hampir mendekati bola bahkan untuk gerak komet yang mengitar matahari ada yang sampai berbentuk hperbolik.
Kemudian Hukum Kedua Kepler menyebutkan bahwa Luas daerah yang disapu pada selang waktu yang sama akan selalu sama sehingga laju orbit planet berubah-ubah, lambat jika jauh dari Matahari (di titik aphelion) dan cepet jika dekat dari Matahari (di titik perihelion). Hal ini juga menunjukan bahwa hokum kekekalan momentum sudut belaku pula pada lintasan planet yang mengitari matahari.
Sedangkan Hukum Ketiga Kepler menyatakan bahwa Perioda kuadrat suatu planet berbanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dari matahari, Planet yang terletak jauh dari matahari memiliki perioda orbit yang lebih panjang dari planet yang dekat letaknya. Hukum ini mendapat banyak perhatian karena dengan hokum ketiga ini kita dapat dapat memperkirakan exoplanetary jari-jari orbit untuk mengetahui jarak dari planet ke pusat masing-masing bintang.
Penerapan pandangan heliosentris ini tdak akan dapat kita temukan langsung dalam kehidaupan sehari-hari seperti halnya kita banyak menemukan fenomena-fenomena mekanika atau listrik dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan untuk sekedar membuktikan bahwa sebenarnya bumilah yang bergerak mengelilingi matahari bukan sebaliknya tidaklah mudah, mungkin bila kita sudah memiliki kemampuan teknologi yang tinggi, kita mampu membuktikannya dengan cara terbang setinggi-tingginya dari bumi dan matahari sambil melihat bagaiman lintasan yang dibentuk oleh mereka berdua, namun cara ini belum bisa dilakukan saat ini.
Sehingga untuk membuktikan kebenaran teori heliosentris digunkan dengan cara analysis data terhadap data-data keberadaan benda langit dan fenomena-fenomena alam yang terjadi dan teramati di bumi. Analsis data yang dimaksud adalah dengan cara menurunkan persamaan-persamaan matematis seperti yang dilakukan oleh Johannes Kepler sedangkan pengamatan terhadap fenomena alam diantaranya adalah tentang aberasi bintang yaitu bergesernya posisi bintang yang selalu berubah dan tidak hanya berada pada satu titik jika diamati dalam waktu berbeda tampak seolah bimtang yang bergerak, padahal sebenarnya bumi lah yang bergerak, hal ini diperoleh dari sudut yang dibentuk dalam pengamatan.
Fenomena yang kedua adalah tentang adanya paralak bintang yang berada jauh dari bumi tampak bergerak-gerak dengan bintang yang lebih dekat darinya dan yang terakhir adanya pergesaran warna pada bintang yang diamati dan warnanya berubah kadang menuju ke biru kadang juga menuju ke merah, hal ini menunjukan adanya pergerakan dari bumi yang sedang mengelilingi matahari sehingga jaraknya dari bintang selalu berubah-ubah.
Namun dalam ilmu astronomi faham tentang heliosentris ini sangatlah penting karena dengan pemahaman ini para ilmuan dapat menggambarkan alam semesta bahakan kepada orang awam sekalipun dengan alas an-alasan yang ilmiah. Dengan memahami sebuah pandangan tentang heliosentris para ilmuan dapat menerapkannya pada benda-benda lain selain planet dan matahari dai tata surya kita sehingga yang paling penting adalah dengan prinsip ini para ilmuan dapat memprediksikan gerak dari benda-benda langit bahkan yang berjarak sangat jau dari bumi sekalipun. Pemahaman para ilmuan tentang heliosentris juga mengilhami para ilmuan untuk menggerakan satelit mengelilingi bumi. 
Tetapi hal yang paling utama yang didapatkan oleh para ilmuan ataupun pelajar yang memahami tentang helosentris adalah dengan memahami heliosentris orang akan menemukan banyak keteraturan selain pada benda yang bersifat molekuler, keteraturan juga tampak pada benda yang sangat besar. Sehingga dengan memahami keteraturan ini orang akan mengetahui hakikat keberadaan Sang Pencipta dan hakikat ini lebih berart dari segala sesuatu yang pernah ada.
Referensi :
Tipler, Paul A. 1998. Fisika untuk Sain dan Teknik (Jilid 1). Jakarta : Erlangga



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it

Gold Clock