Jumat, 25 November 2011

Hari Guru pun Berlalu

"Selamat hari guru" itulah kata yang sering diucapkan pada tanggal 25 November

Namun 0.01 awal ketika saya mulai menulis artikel ini, tepat 1 menit setelah hari guru berlalu, hari yang ditetapkan sebagai penghormatan kepada guru oleh pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994,Hari lahir sebuah organisasi yang bernam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tapi apakah setiap orang tahu tentang hakikat seorang guru pada kehidupan modern ini? 
 
Guru (dari sansekerta : गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiah adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu Dalam bahasa indobesia guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,dia dan mengevaluasi peserta didik. Begitulah pengertian guru di era modern ini, lalu apakah yang kita dapatkan tentang hakikat seorang guru di dalam kehidupan sehari-hari? atau mungkin yang harus kita jadikan sebagai bahan evaluasi bagi setiap orang yang hidup di zaman modern adalah, bagaimana sikap kita terhadap seorang guru?

Begitu banyak teori yang mempelajari tentang keberadaan seorang guru dan kemampuan minimum yang harus dimiliki oleh seorang guru, tapi apalah arti seorang guru bila dia tidak bisa menyentuh hati seorang muridnya, apalah arti seorang guru bila dia hanyalah sebagai pentransfer ilmu, apalah arti seorang guru bila dia hanya datang ke kelas setiap jam pelajarannya. Semua tidak ada artinya, guru hanya akan menjadi sebuah profesi bagi seseorang yang sedang mencari nafkah, tidak lebih dari itu, tidak akan ada lagi cerita pahlawan tanpa tanda jasa.

Seorang guru bukan hanya seorang PNS dengan gaji per bulan dan kemudian mendapatkan uang pensiunan ketika sudah tua kelak. Tapi seorang guru adalah seorang panutan, tak layak bagi seorang guru tuk berakhlak jelek, dia bukan hanya memberikan sebatas pengetahuan kepada siswanya tetapi yang dia berikan adalah lebih dari bekal untuk hidup, dia bisa menyentuh hati siswanya, dia bukan hanya menjadikan siswa pintar tetapi dia bahkan lebih dari sebuah motivasi bagi siswa tuk menjadi lebih pintar

Ketika hakikat seorang guru telah jelas maka hal lain yang perlu diperhatikan oleh kita sejau apakah kita sudah menghargai jasa seorang guru? cukupkah hanya dengan upacara bendaera di hari guru, atau hanya menjadikan tanggal 24 november sebagai hari guru (supaya negara ini tampak memperhatikan guru) padahal tida ada esensi apapun di dalamnya, cukupkah penghargaan kepada seorang guru hanya dengan tunjangan?

Guru adalah makhluk mulia, tapi dia bukan malaikat. Layaknya seorang ibu, guru ingin melihat siswanya sukses atau bahkan lebih sukses darinya, guru tidak pernah ingin disanjung dan dipuja, tetapi sapaan kepada seorang guru merupakan sebuah penghormatan yang luar biasa, guru tidak pernah menginginkan tuk diingat tapi ketika kita tidak pernah melupakannya maka dia akan selalu bangga dengan kita. Dia ingin kita sukses, tapi bukan sukses semata dia ingin kita sukses juga bermoral. Tidak ada yang namanya bekas guru bagi kita sekali menjadi guru maka di adalah guru kita selamanya. 

Terima kasih guru, bagiku tak pentinglah hari guru, karena hari guru telah berlalu, tapi tekadku tak kan pernah luntur tuk membuatmu bangga wahai guruku, 
Kau selalu ada dalam hatiku, ilmumu telah mendarah daging bersama jiwa dan ragaku,

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar